Sabtu, 01 April 2017
kolam renang di pantai
Senior dan juga teman seprofesi saya paling senior. Tino punya kebiasaan mengagendakan setiap acara penting dengan mengunjungi pantai dan berpindah-pindah. Dia selalu mempunyai prakarsa dan acara. Kini telah purna tugas dan mengadakan kunjungan ke pantai Ngrenehan. Sudah tiga kali ini setiap acara diminta olehnya.
Di bus jurusan Karangmojo Saptosari selalu bercerita tentang ombak yang besar. Tino bercerita tentang pantai yang dikunjungi dari dulu. Berbeda dengan yang satu ini. Terdapat keunikan yang tak dimiliki pantai lainnya. Tentang ombak dan perahu tumpangan untuk wisata air ke pantai Ngobaran dan Nguyahan. Begitu pula tentang munculnya kolam renang yang dapat untuk berenang layaknya kolam di darat.
Keponakannya juga suka pantai. Mereka ikut juga pada acara perpisahan ini. Pada acara ini satu keluarga besar sekolahnya dan keluarga besar Tino ke pantai. Mereka ikut bersama dan dalam perkataan sederhana mengapa tertarik pada pantai.
“ Ya indah ombaknya, om.” Kata pak Tino minta dukungan adiknya. Pokoknya hari ini harus sampai pantai.” Begitu katanya.
Saya teringat pertama diajak Tino mengunjungi pantai. Beda dengan yang pantai ini dan sengaja megajak teman lainnya karena juga suka ombak dan nyaman untuk berenang.
Dia menggatakan sebagaimana di Koran berita ada tsunami hari ini dan akhirnya tetap menuju pantai. Ombak pantai menjadi kesenangan tersendiri. Walau diterpa isu yang begitu.
Siang itu cuaca panasnya di luar bisanya. Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB saat kami tiba di pantai. Ternyata parkir penuh dan pantaipun juga ddemikian ramainya penggunjung. Masuk lokasi tiketnya 5000 sudah termasuk jasa raharja. Parkirnya ada beaya sendiri yakni 15000.
Masih ada tempat parkir. Yang tadinya sempat berdebat soal tempat. Maunya saya akan diparkir dekat pantai. Dipaksa untuk parkir di luar pantai dan harus berjalan agak jauh.
***
Suasana pantai tiba-tiba mengagetkan. Ombak berdebur setinggi 4 meter. Tempat yang biasa untuk duduk-duduk diterpa ombak. Sejam kemudian mereda dan ombak bisa bersahabat.
Rombongan Tino termasuk saya sempat takut. Ombak yang kurang bersahabat ini. Suasana menyeramkan jangan-jangan telah ada korban terseret ombak. Bahkan apa ini akan dating tsunami.
Tetap bertahan dengan menantikan redanya. Dan ternyata semakin mendekati sore ombak itu nyaman untuk berenang. Ada ban bagi yang takut tenggelam dengan sewa sepuasnya 10000 saja.
***
Ada perasaan yang takjub ketika melihat ombak. Mengapa orang-orang itu pada suka lihat ombak. Bergulung dan berdebur dengan gemuruhnya.
Benar-benar menjadi tempat rekreatif. Kondisi alam yang tak ada duanya dan memang hanya di Gunungkidul.
Pemerintah Gunungkidul menata agar menjadi obyek wisata yang benar-benar representatif.
Bukan saja menarik pengunjung untuk menikmatinya. Juga tetap aktif dengan segala upaya menjaga kebersihan dan pengotoran polusi sampah.
Juga mengenalkan sumber alam yang menjadi unggulan lokal. Tentang gaplek,walang dan kelapa hijaunya begitu juga kuliner laut dengan ikannya. Udang, cakalang,tuna, kembung dan aneka jenis masakannya.
Lebih lengkap bila ada kaitan disemua lini. Perdaganagn ,indutri, pertanian dan juga dari nelayan yang menyediakan nuansa kuliner laut dan eksotik ombak dan penggemar pancingan.
Begitu pula dengan keamanan laut dengan alat yang lebih canggih. Kemampuan dalam mendeteksi cuaca dan system penanggulangan korban laut.
Perlunya kesadaran agar potensi pantai menjadi daya pikat tersendiri. Menjadi tempat berwisata yang banyak peminatnya. Dapat berekreasi dan belajaar kelautan dan hasil karya unggulan setempat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar